Kamis, 29 September 2011

TEKNOLOGI BUDIDAYA KELAAPA SAWIT


Teknologi Budidaya Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tanaman perkebunan
penting penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun
bahan bakar nabati (biodiesel). Indonesia adalah penghasil
minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia.
Diperkirakan pada tahun 2009, Indonesia akan menempati
posisi pertama produsen sawit dunia. Untuk meningkatkan
produksi kelapa sawit dilakukan kegiatan perluasan areal
pertanaman, rehabilitasi kebun yang sudah ada dan
intensifikasi.
Pelaku usahatani kelapa sawit di Indonesia terdiri dari
perusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan negara
dan perkebunan rakyat. Usaha perkebunan kelapa sawit
rakyat umumnya dikelola dengan model kemitraan dengan
perusahaan besar swasta dan perkebunan negara (inti –
plasma).
Khusus untuk perkebunan sawit rakyat, permasalahan
umum yang dihadapi antara lain rendahnya produktivitas dan
mutu produksinya. Produktivitas kebun sawit rakyat rata-rata
16 ton Tandan Buah Segar (TBS) per ha, sementara potensi
produksi bila menggunakan bibit unggul sawit bisa mencapai
30 ton TBS/ha. Produktivitas CPO (Crude Palm Oil)
perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 2,5 ton CPO per
ha dan 0,33 ton minyak inti sawit (PKO) per ha, sementara di
perkebunan negara rata-rata menghasilkan 4,82 ton CPO per
hektar dan 0,91 ton PKO per hektar, dan perkebunan swasta
rata-rata menghasilkan 3,48 ton CPO per hektar dan 0,57 ton
PKO per hektar.
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas
perkebunan sawit rakyat tersebut adalah karena teknologi
produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari
pembibitan sampai dengan panennya. Dengan penerapan
teknologi budidaya yang tepat, akan berpotensi untuk
peningkatan produksi kelapa sawit. Buku ini
menginformasikan teknik budidaya dan pasca panen kelapa
sawit anjuran, sehingga hasil produksi sawitnya bisa lebih
tinggi.



SYARAT TUMBUH
Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit
antara 5-7 jam/hari. Tanaman ini memerlukan curah hujan
tahunan 1.500-4.000 mm, temperatur optimal 24-28oC.
Ketinggian tempat yang ideal untuk sawit antara 1-500 m dpl
(di atas permukaan laut). Kelembaban optimum yang ideal
untuk tanaman sawit sekitar 80-90% dan kecepatan angin 5-6
km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik,
Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, tanah
gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Tingkat
keasaman (pH) yang optimum untuk sawit adalah 5,0-
5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur,
datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solum
cukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas. Kemiringan lahan
pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15o.
Penyediaan benih dilakukan oleh balai-balai penelitian
kelapa sawit, terutama oleh Marihat Research Station dan
Balai Penelitian Perkebunan Medan (RISPA). Balai-balai
penelitian tersebut mempunyai kebun induk yang baik dan
terjamin dengan pohon induk tipe Delidura dan pohon bapak
tipe Pisifera terpilih.
Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan
ketebalan cangkangnya kelapa sawit dibedakan menjadi Dura,
Pisifera dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya
memiliki cangkang tebal sehingga dianggap dapat
memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan
buahnya besar-besar dan kandungan minyak berkisar 18%.
Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga
betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.
Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera.
Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan
masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun
bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul
persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan
kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28%.



Pengecambahan Benih
Tahapan pekerjaan dalam pengecambahan benih
sebagai berikut:
1. Buah dikupas untuk memperoleh benih yang terlepas dari
sabutnya. Pengupasan buah kelapa sawit dapat
menggunakan mesin pengupas.
2. Benih direndam dalam ember berisi air bersih selama 5
hari dan setiap hari air harus diganti dengan air yang baru.
3. Setelah benih direndam, benih diangkat dan dikering
anginkan di tempat teduh selama 24 jam dengan
menghamparkannya setebal satu lapis biji saja. Kadar air
dalam biji harus diusahakan agar tetap sebesar 17%.
4. Selanjutnya benih disimpan di dalam kantong plastik
berukuran panjang 65 cm yang dapat memuat sekitar 500
sampai 700 benih. Kantong plastik ditutup rapat-rapat
dengan melipat ujungnya dan merekatnya. Simpanlah
kantong-kantong plastik tersebut dalam peti berukuran 30
cm x 20 cm x 10 cm, kemudian letakkan dalam ruang
pengecambahan yang suhunya 39 0C.
5. Benih diperiksa 3 hari sekali (2 kali per minggu) dengan
membuka kantong plastiknya dan semprotlah dengan air
 (gunakan hand mist sprayer) agar kelembaban sesuai
dengan yang diperlukan yaitu antara 21- 22% untuk benih
Dura dan 28-30% untuk Tenera. Contoh benih dapat
diambil untuk diperiksa kelembabannya.
6. Bila telah ada benih yang berkecambah, segera semaikan
pada pesemaian perkecambahan.
7. Setelah melewati masa 80 hari, keluarkan kantong dari
peti di ruang pengecambahan dan letakkan di tempat yang
dingin. Kandungan air harus diusahakan tetap seperti
semula. Dalam beberapa hari benih akan mengeluarkan
tunas kecambahnya. Selama 15-20 hari kemudian
sebagian besar benih telah berkecambah dan siap
dipindahkan ke persemaian perkecambahan (prenursery
ataupun nursery). Benih yang tidak berkecambah dalam
waktu tersebut di atas sebaiknya tidak digunakan untuk
bibit.


Penyemaian
Tahapan pekerjaan dalam penyemaian benih meliputi:
1. Benih yang sudah berkecambah disemai dalam polybag
kecil, kemudian diletakkan pada bedengan-bedengan yang
lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.
2. Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 cm x 23 cm
atau 15 cm x 23 cm (lay flat).
3. Polybag diisi dengan 1,5-2,0 kg tanah atas yang telah
diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase.
4. Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah
dan berjarak 2 cm.
5. Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah
berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai, bibit dederan
sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit (nursery).
6. Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap
lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas
tanah polybag dapat menjaga kelembaban yang
dibutuhkan oleh bibit.
7. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat
membantu dalam usaha menghasilkan kelembaban yang
diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan
karena siraman.
8. Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan
polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau
45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang
pada bagian bawahnya untuk drainase.
9. Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak
sebanyak 15-30 kg/polybag, disesuaikan dengan lamanya
bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) di
pesemaian bibit.
10. Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher
akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan
tanah sekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit
pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang
telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan
sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x
100 cm x100 cm.


Pemeliharaan Pembibitan
Bibit yang telah ditanam di polibag dipelihara dengan
baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit
akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan
saat tanam yang tepat. Pemeliharaan bibit meliputi
penyiraman, penyiangan, pengawasan dan seleksi, serta
pemupukan

Penyiraman
Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali
apabila jatuh hujan lebih dari 7-8 mm pada hari yang
bersangkutan. Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara
menyiramnya harus dengan semprotan halus agar bibit dalam
polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat.
Kebutuhan air siraman ± 2 lt/polybag/hari, disesuaikan dengan
umur bibit.

Penyiangan
Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara
polybag harus dibersihkan, dikored atau disemprot dengan
herbisida. Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam
sebulan, atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.

Pengawasan dan Seleksi
Pengawasan bibit dilakukan untuk mengamati
pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan
penyakit. Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan
mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Pembuangan
bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main
nursery, yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan,
serta pada saat pemindahan bibit ke lapangan. Tanaman yang
bentuknya abnormal dibuang, yakni dengan ciri-ciri;


1. Bibit tumbuh meninggi dan kaku
2. Bibit terkulai
3. Anak daun tidak membelah sempurna
4. Terkena penyakit
5. Anak daun tidak sempurna

Pemupukan

Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit
yang sehat, tumbuh cepat dan subur. Pupuk yang diberikan
adalah Urea dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk. Dosis
dan jenis pupuk yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Dosis dan jenis pupuk untuk pemupukan bibit
Umur bibit
(minggu ke )
Jenis pupuk Dosis Rotasi
4-5 Larutan Urea 0,2 % 3-4 lt larutan/100
bibit
1 minggu
6-7 s.d.a 4-5 lt larutan/100
bibit
1 minggu
8-16 Rustica 15. 15. 6. 4 1 gr/bibit 1 minggu
17-20 Rustica 12.12.17.2 5 gr/bibit 2 minggu
21-28 s.d.a 8 gr/bibit s.d.a
29-40 s.d.a 15gr/bibit s.d.a
41-48 s.d.a 17gr/bibit s.d.a

Pemindahan Bibit ke Lapangan
Bibit yang telah berumur 8 bulan dapat dipindahkan ke
areal pertanaman, tetapi umumnya bibit dipindah ke lapang
pada umur 10-14 bulan. Pemindahan bibit ke lapangan harus
diusahakan agar bibit tidak rusak dan polybagnya tidak pecah.
Gambar 2. Bibit kelapa sawit siap dipindahkan ke lapangan

Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Pola tanam kelapa sawit dapat monokultur ataupun
tumpangsari. Pada pola tanam monokulltur, sebaiknya
penanaman tanaman kacang-kacangan (LCC) sebagai
tanaman penutup tanah dilaksanakan segera setelah
persiapan lahan selesai. Tanaman penutup tanah (legume
cover crop atau LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat
penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan
biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban
tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu
(gulma). Sedangkan pada pola tanam tumpangsari tanah
diantara tanaman kelapa sawit sebelum menghasilkan dapat
ditanami tanaman ubi kayu, jagung atau padi.

Pengajiran

Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat
yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengan jarak tanam
yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila
dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur.
Sistem jarak penanaman yang digunakan adalah segitiga
sama sisi, dengan jarak 9x9x9 m. Dengan sistem segi tiga
sama sisi ini, pada arah Utara – Selatan tanaman berjarak
8,82 m dan jarak untuk setiap tanaman adalah 9 m, jumlah
tanaman 143 pohon/ha.

Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum menanam.
Ukurannya adalah 50x40x40 cm. Pada waktu menggali
lubang, tanah bagian atas dan bawah dipisahkan, masingmasing
di sebelah Utara dan Selatan lubang.

Cara Penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah
hujan turun dengan teratur. Adapun tahapan penanaman
sebagai berikut:
1. Letakkan bibit yang berasal dari polibag di masing-masing
lubang tanam yang sudah dibuat.
2. Siram bibit yang ada pada polybag sehari sebelum
ditanam agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup
untuk bibit.
3. Sebelum penanaman dilakukan pemupukan dasar lubang

1 komentar:

AZLA mengatakan...

blog yang kusukai, dan bermanfaat, saya sudah follow no.5
pleas follow back ditunggu komentar juga
kita tukaran link, link kamu sudah kupasang, psang juga link saya, silahkan cek
http://penyuluhpi.blogspot.com/2012/02/persyaratan-lingkungan-kolam-yang.html

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan